Skip to content

FAKTA SEJARAH BAHWA QURAN, WAHYU PALSU

November 11, 2016

Ada tidak pembaca muslim yang benar benar akademisi dan bisa menggunakan otaknya untuk berpikir, bernalar dan atau berlogika sehingga mampu berdiskusi, berdebat dan atau mengkoreksi serta membenarkan artikel yang akan saya tulis sesuai dengan judul di atas?

Setiap muslim dengan bangganya selalu mengklaim bahwa Al quran adalah asli, karena tidak pernah berubah.

Berdasarkan al quran yang diakui sekarang ini, bahwa Al quran dituliskan dengan bahasa Arab yang jelas, sehingga kalau ada Al quran yang bukan bahasa Arab yang jelas, maka itu bukan Al quran (misalnya terjemahan Al quran).

Al quran oral yang asli, berdasarkan catatan catatan sejarah Islam, dikenal dengan 7 qiraat atau 7 macam pengucapan.

Tulisan bahasa Arab asli ketika didiktekan Muhammad untuk dituliskan, tidak mengenal tanda baca dan huruf vocal.

Al quran yang sekarang ini bersumber dari mushaf Ustmani, penguasa Islam yang memerintahkan semua mushaf dan atau tulisan tulisan lain yang berkaitan dengan Al quran dimusnahkan dengan cara dibakar, kemudian Hajjaj bin Yusuf, gubernur Irak (694 – 714) memasukan lebih dari 1.000. huruf alif ke dalamnya.

Point point di atas akan saya rangkaikan dalam artikel berikutnya, bahwa berdasarkan fakta fakta sejarah yang didapatkan dari bukti bukti yang bersumber dari kalangan Islam, Al quran sekarang ini adalah WAHYU PALSU.

The Hidden Origins of Islam: New Research into Its Early History

Product details
Hardcover: 406 pages
Publisher: Prometheus Books (10 Sep 2008)
Language English
ISBN-10: 1591026342
ISBN-13: 978-1591026341

Penemuan penemuan arkeologi dan penelitian sejarah menyebutkan bahwa pada tahun 660 M, di mesopotamia Timur didapati koin logam dua bahasa dicap dengan huruf MHMT di tengah dan kata Muhammad dalam tulisan Arab di bagian pinggir. Uang² logam ini mengandung simbol² Kristen, misalnya selalu lambang salib,sehingga nama Muhammad sudah jelas dimengerti sebagai predikat Yesus, sama seperti Sanctus of the mass (pujian baginya yang datang…).

Berbeda dengan kisah-kisah tradisi Islam, bahwa Islam lahir di jantung kota Mekkah bersama dengan kehadiran seorang nabi Arab, Muhamad bin Abdullah. Para ahli, khususnya Volker Popp memberi fakta-fakta berdasarkan koin-koin kuno dan sejarah kemunculannya, bahwa Muhammad bukanlah sebuah nama diri (proper name) melainkan gelar dan sebutan bagi Yesus oleh kaum Arab kristen dari Mesopotamia selatan yang oleh Cristoph Luxenberg disebut kaum Arabo-Sasanian Christian. Koin-koin bertuliskan Muhammad /MHMT dan bergambar seorang laki-laki membawa Salib, atau juga koin dengan inisial M dan bergambar salib yang menyebar dari Barat Ke Timur (Mesopotamia ke Damaskus & Yerusalem) pada masa pemerintahan Abdul Malik membuktikan bahwa kata Muhammad adalah gelar atau sebutan bagi Yesus, sebagai tandingan bagi kristen Byzantium yang mempercayai Yesus sebagai anak allah. Sementara kaum kristen di wilayah Barat seperti koptik, Byzantium dan Ortodoks Syria memposisikan Yesus sebagai theos uios/anak allah, kaum kristen Arab sassanian ini memposisikan Yesus sebagai abd’ allah dan rasulullah.

Hal ini ditegaskan dalam temuan Cristoph Luxenberg yang memberi tafsiran baru dalam membaca Prasasti di Kubah Batu dimana tertulis
”Muhammad(un) ‘abd(u) llah(i) wa-rasuluh(u) “ yang seringkali dibaca sebagai Muhammad Abdullah rasul allah, seharusnya ini dibaca : Terpujilah (muhmmadun) abdi / hamba allah dan rasulnya, dan dalam konteks ini yang dirujuk sebagai hamba dan rasul allah adalah Isa anak Mariam. Pembacaan selama ini telah mengabaikan bahwa kata muhamad(un) bukanlah nama pribadi, melainkan gerundival partisipal yang berarti “Terpujilah”.

Tulisan Muhammad berarti “yang disebutkan” dan “terpuji” atau “Dia yang disebutkan” dan “Dia yang terpuji juga sama dengan tulisan yang terdapat di mesjid Dome of the Rock di Yerusalem, di mana gelar Muhammad diartikan sebagai Messiah, Yesus, putra Maryam, dan pelayan Tuhan. Hal ini cocok dengan polemik John dari Damascus yang menentang pernyataan² seperti itu yang dianggapnya sebagai bid’ah (sesat).

Setelah itu, tampaknya predikat keKristenan ini lalu hilang sedemikian rupa sehingga di Qur’an muncul Nabi tanpa nama yang kemudian dikenal sebagai Nabi Arab. Sumber terawal sejarah ini ditemukan dalam tulisan² John dari Damascus, yang menyebut tentang Nabi Palsu bernama Mamed. Hanya di waktu kemudian saja mulai ada catatan sejarah tentang Muhammad.

Sejarah pada umumnya ttg Muhammad dan perkembangan dini Islam didasarkan pada literatur Islam abad 9 & 10 – dua abad setelah mampusnya Muhammad di thn 632. Tidak ada materi Islamic di abad 7 & 8, jaman hidupnya Muhammad dan penerus2nya. Satu2nya hal yg berasal dari jaman ini adalah beberapa inskripsi di gedung2 penting dan uang2 logam. Sejarah hanya didasarkan pada sumber2 jaman ybs, dan oleh karena itulah para penulis buku ini melakukan penelitian mendalam yg membuktikan asal usul Islam secara berbeda total. Spt ditunjukkan riset penulis, nama ‘Muhammad’ timbul pada uang2
keping Syria BERSAMA IKONOGRAFI KRISTEN. Dlm konteks ini, ‘Muhammad’ berarti ‘yang terpuji’, ‘terhormat’ dan HANYA BISA MENGACU kpd YESUS KRISTUS, krn agama Kristen waktu itu adalah agama yg dominan. Hal yg sama juga eksis dlm inskripsi gedung the Dome of the Rock di Jerusalem, yg didirikan kalif ‘Abd al-Malik.

Jadi, ini bukti bahwa penguasa2 Arab terdahulu adalah pengikut sebuah sekte Kristen. Bahkan, bukti dari Quran, yg difinalisasi pada waktu lama kemudian, menunjukkan bahwa prinsip2 teologinya dipengaruhi oleh agama Kristen versi yg ada di Syria, dijaman pra-Nicea (Nicea adalah tempat konferensi bapak2 pendiri agama Kristen yg kita kenal sekarang).
Analisa linguistik juga menunjukkan bahwa Aramaik, bahasa TImur Tengah dulu selama berabad2 dan Kristen Syria sangat MEMPENGARUHI HURUF2 ARAB DAN PERBENDAHARAAN KATA DLM QURAN.

Hanya di akhir abad 8 & 9, Islam menjadi agama terpisah.

Tulisan tulisan sejarah yang dicatat di Al quran maupun hadist yang bersumber dari Muhammad, sama sekali tidak memiliki kronologis, hanya pencampuran berbagai macam kisah tokoh tokoh yang ada di Alkitab dengan  “waktu sejarah” yang bisa berbeda ratusan bahkan ribuan tahun dengan catatan yang sudah ada sebelumnya.

Qur’an Mengisahkan Haman dan Menara Mesopotamia di Mesir di Jaman Musa

Contohnya nih, Muhammad mengatakan bahwa Haman, perdana menteri Raja Persia Ahasuerus dan menara Mesopotamia di Mesir, berada di jaman yang sama dengan jaman Musa. Ahasuerus itu dikenal oleh berbagai ahli sejarah sebagai Xerxes, yang jadi Raja di tahun 486 SM, dan bukan di jaman Musa yang hidup di abad ke 15 SM. Muhammad mengatakan Firaun meminta Haman membakar batu bata dan membangun menara sehingga dia bisa naik surga dan melihat tuhannya Musa. Ini keterangan Muhamad di Qur’an, Sura al-Qasas (28), ayat 38:

Dan berkata Firaun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”.

Muhammad mencontek kisah ini dari Kejadian 11:3,4. Setelah bencana air bah:

Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.” Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat.
Juga kata mereka: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.”

Kita tahu bahwa para Firaun tidak pernah membangun menara apapun yang serupa dengan menara Mesopotamia. Masyarakat Mesir kuno tidak pernah membakar batu batu sampai di jaman Romawi menjajah Mesir. Sebelum jaman Romawi, orang² Mesir menggunakan batu untuk membangun piramida dan bangunan² ibadahnya. Untuk membangun rumah, mereka menggunakan batu bata yang dibuat dikeringkan oleh sinar matahari.

Muhammad Menyebut “Orang² Samiri” di jaman Musa, Meskipun Orang² Samiri (Samaria) Baru Muncul di Abad 6 SM

Contoh lain kesalahan judul terdapat di cerita Muhammad tentang anak sapi emas. Di kitab Keluaran tertulis bahwa Harun membuat patung ini di gurun. Kejadian ini berlangsung saat Musa naik ke gunung untuk menerima Sepuluh Perintah Tuhan. Karena tekanan bani Israel yang tidak sabar lagi setelah menunggu Musa selama 40 hari, Harun tunduk pada permintaan bani Israel dan membuat patung anak lembu emas untuk disembah mereka. Muhammad melaporkan kejadian ini di Qur’an, Sura Ta Ha (20), ayat 85-97 sebagai berikut:

85. Allah berfirman: “Maka sesungguhnya kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri.
86. Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa: “Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, lalu kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?”
87. Mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya”,
88. kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lubang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa”.
89. Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan?
90. Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu dan sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku”.
91. Mereka menjawab: “Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami.
92. Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat,
93. (sehingga kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?” 94. Harun menjawab: “Hai putra ibuku janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israel dan kamu tidak memelihara amanahku”.
95. Berkata Musa: “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?”
96. Samiri menjawab: “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku”.
97. Berkata Musa: “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: “Janganlah menyentuh (aku)”. Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan).

Ketika Muhammad menyebut nama “orang² Samir”, dia berpikir tentang Simon, tukang tenung Samiri (Samaria) yang disebut di kitab Kisah Para Rasul (KPR). Simon meniup orang² di kota Samaria dengan sihirnya dan dicela oleh Rasul Petrus. Persamaan akan celaan Musa pada orang² Samiri di Qur’an dan celaan Petrus pada orang² Samiri di KPR menunjukkan bahwa Muhammad menempatkan orang² Samaria (di KPR) di jaman Musa, padahal dua kejadian ini terpisah sebanyak 1500 tahun.

Kota Samiri dibangun oleh Omri, Raja Israel, di sekitar tahun 880 SM, tapi nama “orang² Samaria” baru tercatat di uang logam setelah abad ke SM, saat masyarakat Assyria dibawa ke Samaria setelah Sargon II menguasai kota itu di tahun 721 SM. Muhammad tidak tahu sejarah masyarakat Samaria, sehingga dia melakukan kesalahan sejarah yang fatal.

Banyak lagi kesalahan kesalahan sejarah yang dituliskan di Al quran maupun hadist, padahal semua hal tersebut sudah dicatat di Al kitab.

Alkitab ditulis  dalam rangkaian kronlogis dan kejadian yang empirik berdasarkan pengilhaman oleh Allah dari waktu ke waktu, hingga akhirnya dikanonkan kembali hingga menjadi satu “perpustakaan” yang kita sebut Alkitab.
Lalu bagaimana bisa Quran pun turut mencatat peristiwa-peristiwa yang dicatat Alkitab? Apakah redaktur Alquran yang hidup dimasa penulisan Alkitab? Apakah Alquran ditulis bersama-sama dengan Alkitab?

Sedemikian banyaknya fakta fakta sejarah yang bila dikonfrontir dengan apa yang dituliskan di Al quran dan Hadist bertolak belakang, tidak bersesuaian, keliru, berbeda waktu dan lain sebagainya.

Sementara itu, setiap muslim percaya bahwa Quran diturunkan oleh Allah SWT secara langsung pada Muhammad. Oleh karena itu Quran tidak boleh dikritik oleh manusia. Padahal secara historis, kental sekali dan dapat dipastikan bahwa Al quran ditulis berdasarkan apa yang dipikirkan Muhammad dan sama persis serta sesuai dengan kebutuhan atau apa yang dibutuhkannya.

Bila Al-Quran diwahyukan secara mekanis maka semua salinan yang diterima, atau ditulis tidak akan beda bahkan sampai tanda bacanya.

Kenyataannya, Ustman memerintahkan untuk memusnahkan dan membakar semua al quran yang beredar, kecuali versi yang dibuatnya.

FAKTA dari BUKTI BUKTI SEJARAH menyimpulkan bahwa apa yang diklaim oleh Al quran itu sendiri adalah WAHYU PALSU!!!!!!

Artikel ini saya buka dengan bentuk pertanyaan:

Ada tidak pembaca muslim yang benar benar akademisi dan bisa menggunakan otaknya untuk berpikir, bernalar dan atau berlogika sehingga mampu berdiskusi, berdebat dan atau mengkoreksi serta membenarkan artikel yang akan saya tulis sesuai dengan judul di atas?

Kalau ada, maka dia pasti akan murtad.

 

From → Uncategorized

One Comment
  1. ffr permalink

    Uda pernah baca ini belum:

    https://en.wikipedia.org/wiki/Birmingham_Quran_manuscript

    gw kutip lagi ucapannya David Thomas, professor of Christianity and Islam di University of Birmingham:

    “The tests carried out on the parchment of the Birmingham folios yield the strong probability that the animal from which it was taken was alive during the lifetime of the Prophet Muhammad or shortly afterwards. This means that the parts of the Qur’an that are written on this parchment can, with a degree of confidence, be dated to less than two decades after Muhammad’s death. These portions must have been in a form that is very close to the form of the Qur’an read today, supporting the view that the text has undergone little or no alteration and that it can be dated to a point very close to the time it was believed to be revealed.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: