Skip to content

MUHAMMAD, TELADAN YANG SEMPURNA

July 7, 2016

QS 33 : 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Setiap muslim, tentu yang keturunan Adam, kalau ditanya siapakah suri teladannya?  Tentu jawabnya adalah Muhammad.

Tapi kalau ditanya contoh teladan apa yang diikutinya?  Tidak semua muslim bisa menjawabnya….. kalau pun bisa, paling juga ASBUN dan NGARANG DOT COM!!!!!!

TELADAN dapat diartikan : SUATU PERBUATAN YANG PATUT UNTUK DITIRU atau BAIK UNTUK DI CONTOH

Kalau kamu muslim yang mengharap ALLOW dan hari kiamat, kira kira perbuatan apa yang patut kamu tiru dan baik kamu contoh dari Muhammad?

Setiap perbuatan, baik atau jahat, tentu ada parameter yang harus diterima bersama secara umum berdasarkan nilai nilai kemanusiaan.

Julius Caesar yang memperbudak banyak bangsa adalah simbol kejayaan Roma.

Hitler yang begitu kejam dan keji adalah panutan bagi anggota Nazi.

Suharto pada jamannya dipuja puji oleh anggota Golkar.

Muhammad,

  • PEDOPHIL – mengawini anak umur 6 tahun dan menyodoknya pada usia 9 tahun
  • PERAMPOK – merampok pedagang karavan untuk menghidupi dirinya dan para istri serta pengikutnya.
  • PENIPU dan PENCABUL – menipu istrinya sendiri dan mencabuli perempuan lain di ranjang istrinya.
  • PEMBUNUH BIADAB – menyodok wanita pada hari yang sama kepala suami si wanita dipenggalnya.
  • TAK TAHU MALU – pada tengah malam buta menyelinap ke rumah janda muda nan bahenol, kemudian ngaku ngaku pergi pulang ke surga antah berantah. Ngawini anak mantunya sendiri dengan alasan membatalkan adopsi anak.
  • TUKANG KIBUL – katanya ada batu yang bisa mengambil baju Musa ketika mandi dan berlari menyembunyikan baju Musa.  Alexander yang agung alias Dzulkarnaen dikatakan melihat matahari tenggelam di laut berlumpur hitam.  Karangan Aristoteles, “SEVEN SLEEPER” dibilang wahyu dari surga. Dll.
  • KEJI DAN BIADAB – membunuh janda tua renta dengan menarik kaki tangannya yang diikatkan ke unta setelah sebelumnya menyuruh orang memperkosa putri si janda di depan matanya.
  • BANGSAT EDAN – menjanjikan selangkangan yang menganga dan siap untuk diperkosa bagi suku suku yang mau ngerampok bersamanya.

Itukah  SUATU PERBUATAN YANG PATUT UNTUK DITIRU atau BAIK UNTUK DI CONTOH dari Muhammad?

Tentu, sebagai manusia normal yang beradab, yang mengerti tentang manusia dan kemanusiaan, contoh contoh perbuatan Muhammad seperti di atas tidak bisa dijadikan sebagai teladan, apalagi teladan yang sempurna.

Paling banter para muslim hanya menceritakan bagaimana keteladanan Muhammad mengelola ISTRI ISTRINYA…….. termasuk membungkam Hafsah yang ditipu mentah mentah karena dia ngga kuat nahan nafsunya melihat si Marya yang semok dan aduhai!!!!!

Kemudian ada para muslim yang akan berkomentar penulis blog ini TOLOL atau ancaman darahmu halal, laknat, kutukan dan lain sebagainya…. padahal yang disajikan di artikel bersumber dari sumber sumber islam yang dapat dipertanggungjawabkan.

Tidak akan ada satu muslimpun yang akan mengomentari artikel ini dengan memberikan contoh keteladanan Muhammad yang bisa diterima secara akal sehat, logik dan memang pantas untuk ditiru, kecuali muter muter tidak karuan, sambil melampiaskan tuduhan dan klaim… bla…bla… bla….

Karena sesungguhnya para muslim mewarisi KETOLOLAN AJARAN ISLAM, ajaran abad ke 7 dari manusia barbar dan biadab yang WAJIB BERSAKSI DUSTA karena mereka menyembah sang PENDUSTA, raja TIPU TIPU, SANG PENYESAT, KHAIRUL MAKARIN.

Para muslim bisanya cuma marah dan meradang, tetapi tidak mampu melakukan PEMBELAAN yang memang patut dilakukan untuk meluruskan apa sebenarnya SURI TELADAN SEMPURNA yang patut ditiru dari Muhammad.

Ada yang bisa memberikan pencerahan?????????????!!!!!!!!!!!

 

Contoh puja puji keteladanan sang Nabi

uswatun hasanah
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
[QS. Al-Ahzaab: 21]
Ayat yang agung di atas, di setiap bulan Rabi’ul Awwal, biasanya menjadi ayat yang paling sering terdengar dari corong-corong masjid. Tentu saja melalui mimbar-mimbar ceramah maulid. Para penceramah maulid juga tidak pernah lupa mengingatkan makna inti yang terkandung dalam ayat tersebut, bahwa kita sebagai ummat Muhammad wajib untuk menjadikan beliau sebagai panutan dan ikutan dalam mengamalkan agama. Belakangan, mencuat sebuah pertanyaan, sudahkah makna inti ayat tersebut terealisasi pada diri dan masyarakat muslim kita? Dan apakah kita telah memahami hakikat “uswatun hasanah” yang diinginkan oleh ayat tersebut?
Ulama tafsir mengaitkan turunnya ayat di atas secara khusus dengan peristiwa perang Khandaq yang sangat memberatkan kaum muslimin saat itu. Nabi dan para Sahabat benar-benar dalam keadaan susah dan lapar, sampai-sampai para Sahabat mengganjal perut dengan batu demi menahan perihnya rasa lapar. Mereka pun berkeluh kesah kepada Nabi. Adapun Nabi, benar-benar beliau adalah suri teladan dalam hal kesabaran ketika itu. Nabi bahkan mengganjal perutnya dengan dua buah batu, namun justru paling gigih dan sabar. Kesabaran Nabi dan perjuangan beliau tanpa sedikitpun berkeluh kesah dalam kisah Khandaq, diabadikan oleh ayat di atas sebagai bentuk suri teladan yang sepatutnya diikuti oleh ummatnya. Sekali lagi ini adalah penafsiran yang bersifat khusus dari ayat tersebut, jika ditilik dari peristiwa yang melatar belakanginya. [lihat Tafsir al-Qurthubi: 14/138-139]
Adapun jika dikaji secara lebih mendalam, ayat di atas -di mata para ulama- merupakan dalil bahwasanya teladan Nabi berupa perbuatan dan tindak tanduk beliau bisa menjadi landasan atau dalil dalam menetapkan suatu perkara, karena tidak ada yang dicontohkan oleh Nabi kepada ummatnya melainkan contoh yang terbaik. Hal ini dijelaskan oleh Imam ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’adi dalam kitab tafsirnya yang terkenal, Tafsir Kariimir Rahmaan. Beliau berkata (hal. 726 Cet. Darul Hadits):
“Para ulama ushul berdalil dengan ayat ini tentang ber-hujjah (berargumen) menggunakan perbuatan-perbuatan Nabi. (Karena) pada asalnya, ummat beliau wajib menjadikan beliau sebagai suri teladan dalam perkara hukum, kecuali ada dalil syar’i yang mengkhususkan (bahwa suatu perbuatan Nabi hanya khusus untuk beliau saja secara hukum, tidak untuk ummatnya).”

Nabi kita adalah manusia yang terbaik di segala sisi dan segi. Di setiap lini kehidupan, beliau selalu nomor satu dan paling pantas dijadikan profil percontohan untuk urusan agama dan kebaikan.

Sehingga tidak heran jika Allah mewajibkan kita untuk taat mengikuti beliau serta melarang kita untuk durhaka kepadanya dalam banyak ayat al-Qur-an, di antaranya firman Allah (artinya): “…Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar.” [QS. An-Nisaa: 13]
Rasulullah juga pernah bersabda:
كُلُّ أُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَـى، فَقِيْلَ: وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ أَبَى
“Setiap ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan. (Lalu) dikatakan kepada beliau: ‘Siapa yang enggan itu wahai Rasulullah ?’ Maka beliau menjawab: ‘Barangsiapa mentaati aku ia pasti masuk surga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka ia enggan (masuk surga).” [Shahih Bukhari: 7280]
Hakikat Makna Uswatun Hasanah
Kita sering terperangkap dalam pola prinsip yang keliru dalam memaknai hakikat uswatun hasanah yang ada pada diri Rasulullah . Tidak sedikit di antara kita mengkerdilkan makna sifat uswah (keteladanan) Nabi hanya terbatas pada masalah-masalah akhlak, sunnah-sunnah dan ritual ibadah yang dikerjakan oleh Nabi saja. Padahal, syari’at juga menuntut kita untuk meninggalkan -atau tidak mengerjakan- segala sesuatu yang tidak dikerjakan oleh Nabi dalam urusan agama ini. Inilah makna uswah yang lebih sempurna, mencakup sunnah fi’liyyah dan juga sunnah tarkiyyah.
Sunnah fi’liyyah adalah sunnah yang dikerjakan atau dicontohkan oleh Nabi. Dalam hal ini kita pun disunnahkan -bahkan bisa wajib- untuk mengerjakan persis seperti apa yang dikerjakan oleh beliau sebatas kemampuan kita.
Adapun pada sunnah tarkiyyah, kita dituntut untuk meninggalkan suatu bentuk ritual dikarenakan ritual tersebut ditinggalkan atau tidak dikerjakan oleh Nabi di masanya, padahal sangat memungkinkan untuk dikerjakan di masa beliau. Contohnya adalah kumandang adzan saat solat ‘Ied, adzan solat istisqo’ (minta hujan), dan adzan untuk jenazah. Ini semua ditinggalkan atau tidak dikerjakan oleh Nabi, maka bagi kita ummatnya, meninggalkan ritual-ritual (seperti adzan yang tidak pada tempatnya) tersebut juga termasuk sunnah –yang sifatnya wajib-, yang disebut sebagai sunnah tarkiyyah.
Contoh lain yang lebih pas di bulan ini (Rabi’ul Awwal) adalah; perayaan hari kelahiran Nabi (maulid). Merayakan kelahiran Nabi sangat memungkinkan untuk dikerjakan di masa Nabi dan Sahabat. Nabi tahu bahwa kelahiran dirinya ke muka bumi adalah rahmat bagi alam yang patut disyukuri. Demikian pula para Sahabat adalah orang yang paling mencintai dan memuliakan Nabi, mereka adalah kaum yang paling bersyukur atas kelahiran Nabi di tengah-tengah mereka. Namun faktanya Nabi dan Sahabat meninggalkan perayaan kelahiran tersebut, mereka tidak pernah mengerjakannya. Sehingga jadilah ia sunnah tarkiyyah bagi kita (yakni sunnah –yang bersifat wajib- untuk kita tinggalkan).
“Sunnah” Tarkiyyah Bermakna “Wajib”
Adapun dasar hukum sunnah tarkiyyah ini, para ulama berdalil dengan kisah tiga orang peziarah yang bertanya kepada istri-istri Nabi perihal keseharian ibadah yang dikerjakan oleh beliau. Anas radhiallahu’anhu, pembantu sekaligus Sahabat Rasulullah , mengisahkan yang artinya:
“Datang tiga orang menuju rumah para istri Nabi. Mereka bertanya tentang ibadah Nabi. Manakala mereka dikabarkan perihal ibadah-ibadah yang dilakukan oleh Nabi, seakan akan mereka menganggapnya sedikit. Maka mereka berkata: ‘Kita ini di mana jika dibandingkan dengan Nabi? (Wajar saja), beliau telah diampuni dosa-dosanya, baik yang telah lampau dan yang akan datang.’ Salah seorang di antara mereka lantas berkata: ‘Adapun aku, sungguh aku akan solat malam selamanya (tidak tidur).’ Berkata lagi yang lain: ‘Aku akan berpuasa dahr, dan tidak akan berbuka (puasa setiap hari tanpa jeda).’ Dan yang satu lagi berkata: ‘Aku akan menjauhi wanita, aku tidak akan menikah selamanya.”
“Maka Nabi datang, lantas berkata (sambil marah) : ‘Kalian yang berkata begini…dan begini…? Adapun aku demi Allah! Aku orang yang paling takut kepada Allah daripada kalian, dan aku yang paling taqwa kepada-Nya daripada kalian! Namun (kendatipun demikian) aku ini berpuasa, tapi juga berbuka (ada hari jeda). Aku solat (malam), dan aku juga tidur. Dan aku menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak suka sunnahku (lebih memilih yang lain), maka dia bukan golonganku”. [Bukhari: 5063, Muslim: 1401, Lih. Ushuulul Bida’ hal. 108]
Jika kita simak hadits di atas, bagaimana kerasnya ancaman Rasulullah terhadap orang-orang yang tidak mau mencukukan diri dengan sunnah beliau, maka bisa dipahami bahwa “sunnah” tarkiyyah -dalam artian meninggalkan bentuk-bentuk ritual yang hendak dilakukan oleh ketiga orang tersebut- bersifat wajib hukumnya, bukan “sunnah” dalam pengertian ilmu fiqih; berpahala jika dikerjakan dan tidak berdosa jika ditinggalkan.
Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam kitabnya Fadhlu ‘Ilmis Salaf mengatakan: “…adapun apa–apa yang telah disepakati oleh Salaf (para Sahabat) untuk ditinggalkan (dalam urusan agama), maka tidak boleh dikerjakan. Karena para Salaf tidaklah meninggalkan sesuatu (dalam urusan agama ini), melainkan karena mereka tahu bahwa sesuatu tersebut tidak (disyari’atkan) untuk diamalkan.” [lih. ‘Ilmu Ushulil Bida’ hal. 110]
Alhasil, apa yang Nabi contohkan kepada kita, niscaya itu baik. Dan apa-apa yang beliau tinggalkan dari perkara agama ini, sudah pasti itu bukan suatu kebaikan di sisi Allah jika kita kerjakan. Rasulullah bersabda:
إنَّهُ لَمْ يَكُن نَبِيٌّ قَبْلِي إلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ
“Sungguh tidak ada satupun Nabi sebelumku, melainkan ia pasti menunjukkan (mengajarkan) kepada ummatnya segala bentuk kebaikan yang ia ketahui, dan memperingatkan ummatnya dari segala macam keburukan yang ia ketahui”. [Shahih Muslim: 1844]
Dan Nabi telah memperingatkan kita dari berbuat sesuatu yang tidak ada teladannya dari beliau dalam urusan agama ini. Sebagaimana sabdanya:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan amalan ibadah yang tidak ada perintahnya dari kami (Nabi dan Sahabat1), maka amalannya tertolak (tidak diterima).” [Syarh Shahih Muslim: 1718]
Akhirulkalam, baik sunnah fi’liyyah (mengerjakan yang dicontohkan) maupun sunnah tarkiyyah (meninggalkan yang tidak dicontohkan), kedua-duanya harus berjalan dalam diri seorang mukmin yang mengaku Rasulullah sebagai teladan hidupnya. Dengan demikian, barulah hakikat uswatun hasanah pada ayat yang kita kaji ini benar-benar tidak hanya sekedar pemanis bibir di mimbar-mimbar ceramah. Wallahua’lam
Disusun oleh : Tim Redaksi al-Hujjah
Kepustakaan : —
.: Tafsir al-Qurthubi, Cet. Darulkitab
al-Arobi: V/1423 H
.: Tafsir Karimir Rahman, Cet. Darul Hadits:
1426 H
.: ‘Ilmu Ushulil Bida’, Cet. Darur Royah:
II/1417 H

Hayo para muslim, berikan contoh-contohnya

“Nabi kita adalah manusia yang terbaik di segala sisi dan segi. Di setiap lini kehidupan, beliau selalu nomor satu dan paling pantas dijadikan profil percontohan untuk urusan agama dan kebaikan.”

biar para kafir kelimpungan dan tidak bisa berkata apa apa membaca kebaikan MUHAMMAD sebagai manusia terbaik di segala sisi dan segi, disetiap lini kehidupan yang pasti nomor satu dan paling pantas dijadikan profil percontohan.

 

 

 

 

From → Uncategorized

4 Comments
  1. https://membukanalarmuslim.wordpress.com/author/membukanalarmuslim/

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Para muslimin dan muslimah

    Minal ‘Aidin wal-Faizin Mohon Maaf Lahir Batin 1437 H

    Semoga di hari yang fitri ini, kalian kaum muslimin semuanya, tidak satupun lupa akan tugas utama kalian, yaitu meneladani keteladanan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, terutama keteladanan Rasulullah dalam TIPU-MENIPU. Sebab bagaimanapun sesungguhnya kalian muslimin semuanya sudah mewarisi KETOLOLAN AJARAN ISLAM, ajaran abad ke 7 dari manusia barbar dan biadab yang WAJIB BERSAKSI DUSTA karena kalian menyembah sang PENDUSTA, raja TIPU TIPU, SANG PENYESAT, KHAIRUL MAKARIN.

    Alhamdulilah

  2. MualafIsBack permalink

    Muhammad SAW bajingan tengik

  3. https://membukanalarmuslim.wordpress.com/author/membukanalarmuslim/

    MUHAMMAD, TELADAN YANG SEMPURNA

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Alhamdulillahirabbil Alamin Washolatu Wassalamuala Asrofil Ambiaiwal Mursalin Waalaalihi wasalim Ajmain Amaba’du.

    Saat ini ramadan telah berlalu dan kalian kaum muslimin semuanya telah menikmatinya dengan seribu nikmat, maka sudah sepantasnya kalian puji syukurkan kehadirat Allah SWT, Allah biadab kalian yang telah memberikan kalian beribu nikmat yaitu nikmat keislaman, nikmat kebinatangan, nikmat kesetanan dan nikmat kebiadaban Muhammad SAW. Tidak boleh lupa pula kalian kaum muslimin harus saling mengucapkan sholawat satu sama lainnya beriring salam kalian sebagai wujud hadiah kepada junjungan kalian Nabi Muhammad SAW yang mana beliau telah membawa kalian dari zaman jahilliah yaitu zaman kegelapan yang beliau penuhi dengan perjuangan penggarongan (rampok) beliau bersama para Syuhada sampai ke zaman yang terang benderang saat sekarang ini yang dihiasi budaya korup.

    Lebih lanjut di dalam mengisi kehidupan kalian setelah ramadan tahun ini, kalian muslimin semua yang sudah mewarisi KETOLOLAN AJARAN ISLAM, ajaran abad ke 7 dari manusia barbar dan biadab Muhammad, bukan saja WAJIB BERSAKSI DUSTA tetapi juga secara lengkap kalian harus meneladani semua keteladanan KEBIADABAN dari nabi junjungan kalian, Nabi Biadab Muhammad SAW.

    1. Bila nafsu seks kalian memuncak, maka kalian harus segera mencari perempuan untuk dapat kalian perkosa, seperti yang sering dipraktekkan dan dianjurkan nabi kalian.
    2. Bila kalian kekurangan uang, maka segeralah kalian rampok harta kafir yang ada disekitar kalian, sebab semua harta kafir halal bagi Allah swt.
    3. dan seterusnya, dan seterusnya sesuai dengan semua contoh2 keteladan kebiadaban dan kesetanan Muhammad SAW sepanjang hidupnya.

    Akhirnya. Billahittaufiq wal hidayah. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

  4. Hitut Bau Sungut permalink

    Cageur Jang??
    Syukur Ari Cageur Mah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: